Pages

Konten dalam blog ini murni untuk tujuan pendidikan. Penulis tidak bertanggungjawab jika terjadi penyalahgunaan isi. Mohon mencantumkan sumber data dengan valid untuk menghormati mereka yang telah berjuang untuk kepentingan pengetahuan umat manusia. Salam hangat, Anis Gunawan.

Allahu Akbar!!!

PEWARISAN KARAKTER JUMLAH BIJI PER POLONG PADA KACANG TANAH


I.                   INTISARI
Penampilan dan karakter jumlah biji per polong dikendalikan oleh gen-gen mayor yang dipengaruhi oleh gen-gen minor atau gen-gen modifikasi yang ekspresinya dipengaruhi lingkungan. Pengujian terhadap Hukum Mendel yang dilakukan dengan uji Chi Square yang digunakan untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari persilangan-persilangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipoteis secara teoritis. Menurut hipotesis nisbah yang terbentuk pada populasi keturunan adalah 3:1. Setelah diuji segregasinya menggunakan metode Chi Square  didapatkan X2hit < X2tab (0,495 < 5,99) sehingga penurunan sifat atau karakter jumlah biji per polongpada kacang tanah mengikuti Hukum Mendel.


 II.                PENDAHULUAN

A. Tujuan
1.      Mempelajari pola pewarisan dan gen pengendali karakter jumlah biji per polong pada kacang tanah
2.      Melakukan persilangan kacang tanah

B. Latar Belakang
Secara umum karakter-karakter yang dapat diwariskan dikendalikan oleh gen-gen kromosom inti, tetapi ada beberapa karakter yang dikendalikan oleh DNA organel sitoplasma. Suatu karakter yang dikendalikan oleh gen-gen yang teradapat dalam organel sitoplasma, dapat dikatakan juga dipengaruhi tetua betina bisa juga diketahui dengan melakukan persilangan resiprok. Apabila terdapat pewarisan sitoplasmik atau pengaruh tetua betina maka keturunan persilangan resiproknya masing-masing akan berbeda, dan keturunannya hanya akan memperlihatkan ciri dari tetua.
Penampilan dan karakter jumlah biji per polong dikendalikan oleh gen-gen mayor yang dipengaruhi oleh gen-gen minor atau gen-gen modifikasi yang ekspresinya dipengaruhi lingkungan. Gen modifikasi adalah gen yang mengubah sedikit intensitas kenampakan gen lain. Gen modifikasi dapat berperan sebagai penghambat, pendukung, atau penekan. Gen mayor mengatur penampakan fenotip dari suatu karakter teatapi mungkin berubah karena pengaruh beberapa atau banyak gen minor.
Pewarisan sifat jumlah per polong pada tanaman kacang tanah dapat diketahui dengan melakukan persilangan resiprok untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh tetua. Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan bahwa pada sifat jumlah biji per polong kacang tanah tidak dipengaruhi oleh tetua betina berdasar uji maternal effect (Uji Mann Whitney). Tidak adanya pengaruh dari tetua betina dapat dipengaruhi oleh gen yang membawa sifat jumlah biji per polong tidak terdapat pada sitoplasmik betina yang diwariskan pada keturunannya. Sehingga sebagai tindak gen pada sifat ini diduga adalah gen inti. Hal ini terlihat pada persilangan resiprok yang dilakukan pada tanaman kacang berpolong dua, yang mana bila tindak gen yang terjadi adalah gen yang berada pada sitoplasmik maka populasi keturunannya akan memiliki sifat dominan pad induk betina.


PERISTIWA XENIA

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

     Pada tahun 1881 Focke menunjukkan adanya suatu anomali pada tanaman serealia (biji-bijian). Fenomena ini terlihat jelas pada tanaman serealia karena pada umumnya biji tanaman tersebut memiliki massa yang relatif besar. Peristiwa tersebut oleh Focke dikatakan sebagai Peristiwa Xenia, dimana peristiwa tersebut dipengaruhi oleh gamet jantan atau ayah pada endosperm tanaman induk.
       Umumnya karakter warna biji pada tanaman Jagung dapat memperlihatkan secara jelas adanya sifat-sifat dominan maupun resesif. Semisal, warna putih pada biji memunculkan sifat resesif sedangkan, warna kuning, merah, dan ungu pada biji cenderung memunculkan sifat dominan. Jadi, ketika disilangkan tanaman induk yang berbiji putih dengan tanaman jantan yang berwarna kuning maka, keturunan pertamanya (F1) akan serupa dengan karakter biji pejantannya yaitu, memiliki warna kuning pada bijinya.
Kandungan gizi biji jagung kaya akan karbohidrat, sebagian besar berada pada endospermium. Dari seluruh bahan kering biji, Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80%. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda.
       Pada tanaman Jagung terdapat bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tanaman Jagung termasuk ke dalam suku Poaceae, dimana memiliki struktur khas pada bunganya pada tiap kuntum bunga. Struktur khas tersebut disebut dengan floret. Pada tanaman jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal : gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).

Adapun klasifikasi tanaman Jagung, yaitu :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermathopita
Klas : Angiospermae
Subklas : Mpnokotile
Ordo : Graminaes
Famili : Graminae
Genus : Zea
Spesies : mays

I.2. Tujuan

Menunjukkan peristiwa Xenia pada tanaman jagung.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Jagung merupakan salah satu palawija (tanaman pangan non padi) yang paling utama di Indonesia. Komoditi ini merupakan sumber karbohidrat yang penting sehingga dapat merupakan bahan pangan alternatif yang baik selain beras. Sebagian produksi jagung digunakan untuk pakan. Dalam hal ini jagung menyumbang komponen protein dan lemak dalam pangan di Indonesia. Jagung merupakan sumber kalori utama bagi sebagian penduduk Indonesia. Untuk seluruh Indonesia, sumbangan jagung yang langsung dikonsumsi oleh manusia sekitar 10% dari total masukan protein dan kalori (Anonim, 1988).
Jagung termasuk tanaman pangan penting, karena sekitar 1,8 Juta penduduk masih menggunakan jagung sebagai bahan makanan pokoknya. Di samping itu untuk memenuhi kebutuhan pakan dan industri yang berbahan baku utama jagung, maka dilakukan impor jagung sebanyak 1-1,2 juta ton/tahun. Di masa mendatang kebutuhan jagung akan meningkat karena mampu bersaing dengan harga komoditas lain yang semakin mahal (misal : terigu) (Burhanudin et al., 2002).
Petani biasanya menggunakan varietas yang direkomendasikan pada daerah mereka masing-masing. Hal ini untuk menjamin bahwa varietas yang mereka gunakan mampu beradaptasi dengan lingkungan di daerah mereka. Benih yang dipanen dari jagung yang ditanam tidak dapat digunakan sebagai bahan tanam pada masa tanam berikutnya. Benih baru dapat digunakan dalam setiap penanaman (Sarono dan Sa’ud, 2001).
Kira-kira 4-6 hari setelah biji jagung ditanam, tanaman akan muncul di atas permukaan tanah bila kondisi tanah cukup lembab. Laju tambahan tinggi tanaman pada fase awal relatif lambat tetapi, tanaman akan tumbuh dengan cepat setelah tanaman berumur 4 minggu. Sistem perakaran jagung berkembang dengan cepat pada saat tanaman berdaun 5-7 helai. Selanjutnya setelah berumur 7-9 minggu terjadi pembungaan lalu rambut tongkol muncul dan selanjutnya penyerbukan mulai berlangsung. Umumnya tongkol jagung tumbuh dari ruas 6-8 bawah bunga jantan. Pada fase pembungaan ini biasanya akar cabang (brace root) tumbuh dari ruas bagian bawah dekat tanah. Akar cabang ini selain berguna untuk menunjang / menopang tanaman agar tidak mudah rebah juga dapat mengabsorbsi hara tanaman (Sutoro et al., 1988).
Xenia adalah pengaruh secara tiba-tiba dari serbuk sari di endosperma, karena terjadinya pembuahan ganda dalam bibit tanaman (Gardner, 1968).
Proses dari fertilisasi ganda melibatkan materi genetik dari polen induk sampai jaringan endosperma atau embrio. Maka, hal tersebut mungkin atau dapat diharapkan bahwa maternal dan paternal yang diturunkan akan diwujudkan. Pada penurunan sifat ini, pengaruh dari gen polen induk kepada endosperma disebut Xenia. Misalnya jagung dari suatu varietas normal berbiji putih disilangkan dengan jagung berbiji warna kuning, endosperm keturunannya berbiji kuning. Gen yang dominan yaitu yang berwarna kuning dari polen diekspresikan pada endosperm dalam sifat yang sama diharapkan oleh jaringan embrionik (Gardner, 1974).
Ciri dari pengaruh Xenia, yaitu : berat gen biji dikontribusikan melalui tanaman yang juga dipengaruhi oleh masa pengisian bulir, laju kehilangan kelembaban dari biji, konsentrasi kelembaban pada saat masak secara fisik, dan semua ciri yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Biji dari tanaman yang banyak, memiliki bulir lebih tinggi sebesar 2,6%, memiliki masa pengisian bulir yang lebih panjang sebesar 5,9%, memiliki berat biji yang dipengaruhi oleh tetua betina lebih tinggi sebesar 7,9%, memiliki kehilangan konsentrasi selama pengisian bulir sebesar 5,1%, dan tingkat kelembaban pada saat masak secara fisiologis lebih rendah disbanding biji dari tanaman yang sama (Seka and Cross, 1995).
Endosperma jagung termasuk jaringan triploid. Satu buah genom dikontribusikan dari tetua jantan melalui nucleus sperma. Dua buah genom berasal dari tetua betina melalui nucleus polar. Oleh karena itu, gen dari pollen tetua mungkin mempengaruhi jagung, perkembangan biji, dan menghasilkan bulir. Poneleit dan Egli melaporkan bahwa efek / pengaruh dari tetua betina dipengaruhi oleh masa pengisian bulir. Dapat disimpulkan bahwa allel dari kedua tetua dikontrol oleh laju pertumbuhan biji (Seka and Cross, 1995).



III. METODOLOGI


Dalam praktikum ini alat dan bahan yang digunakan, antara lain : populasi tanaman jagung manis atau varietas yang berwarana putih, populasi tanaman jagung manado atau varietas lain yang berwarna kuning, merah, atau ungu, dan perlengkapan polinasi (kantong kertas, gunting, label, paper clip, dan alat tulis.
Peristiwa Xenia pada percobaan ini ditunjukkan dengan menggunakan Tassel Bag Method. Pada metode ini baik bunga jantan maupun betina dibungkus sebelum mekar menggunakan kantong kertas minyak. Malai bunga jantan yang keluar dari pucuk tanaman dikerodong menggunakan kertas minyak. Untuk bunga betina (tongkol) dikerodong sebelum kepala putik (rambut jagung) keluar. Hari berikutnya tongkol diperiksa untuk melihat laju keluarnya rambut jagung. Rambut jagung yang sudah keluar dipotong dengan gunting setinggi ±1-2 cm di atas permukaan ujung klobot. Pemotongan ini dimaksudkan untuk mencegah rambut tongkol keluar dari kantong sehingga terjadi penyerbukan dengan pollen yang tidak dikehendaki. Pemotongan dapat dilakukan 2-3 kali sampai seluruh rambut tongkol telah keluar. Tongkol yang seluruh rambutnya telah keluar dari klobot menunjukkan jagung siap diserbuki. Malai bunga jantan yang telah dikerodong dikumpulkan serbuk sarinya untuk digunakan sebagai tetua jantan. Penyerbukan buatan dilakukan dengan cara menaburkan serbuk sari / pollen yang telah terkumpul tersebut di atas permukaan potongan rambut jagung. Waktu optimal penyerbukan adalah antara pukul 09.00 – 11.00 WIB. Prosedur ini dapat diulang 2-3 kali (menggunakan pollen dari tetua yang sama) untuk meyakinkan putik telah diserbuki. Tanda–tanda bahwa bunga jantan siap menyerbuki adalah adanya serbuk sari yang melekat pada kantong pembungkus. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti tabel di bawah ini :

Tabel Persilangan

♀/♂
Jagung manis
Jagung Manado
Jagung manis
Jagung Manado


III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL

Karakter warna

♀/♂
Jumlah biji berwarna
Kuning Pucat
Kuning Kuat
Total
Kuantum
%
Kuantum
%
Kuantum
%
Xenia
97
44,9
119
55,09
216
100
Kontrol xenia
162
35,29
297
64,71
459
100
Resiprok
329
83,3
66
16,3
395
100
Kontrol Resiprok
306
82,26
66
17,74
372
100


Karakter kerut

♀/♂
Jumlah biji
Kerut
Tidak Kerut
Total
Kuantum
%
Kuantum
%
Kuantum
%
Xenia
0
0
216
100
216
100
Kontrol xenia
0
0
459
100
459
100
Resiprok
380
96,2
15
3,8
395
100
Kontrol Resiprok
2
0,54
370
99,46
372
100



B. PEMBAHASAN

Jagung merupakan tanaman penyerbuk silang. Pada umumnya persilangannya dibantu oleh angin (anemogami). Dalam praktikum untuk mengetahui peristiwa Xenia ini dilakukan penyerbukan buatan oleh manusia (anthropogami). Selain itu dilakukan pula perlindungan terhadap putik yang diserbuki oleh benang sari satu tanaman jagung agar tidak tercampur dengan benang sari tanaman lainnya sehingga, didapatkan hasil (buah) yang mudah untuk diamati dengan lebih teliti. Jagung termasuk tanaman berputik tunggal dimana, benang sari dan putik berada dalam satu tanaman namun, berbeda bunga.
Peristiwa Xenia merupakan pengaruh gamet jantan pada endosperma tanaman induk. Pada percobaan xenia ini persilangan antara jagung Manado kuning (♂) dengan jagung Manis Putih (♀) menghasilkan keturunan berupa jagung yang mempunyai karakter biji berwarna kuning kuat dan tidak berkerut. Dalam data yang diperoleh hasil bahwa karakter kuning kuat sebanyak 119 biji atau 55,09% dari total biji yang ada dalam satu tongkol. Karakter kuning kuat tersebut lebih banyak (dominan) daripada karakter warna biji kuning pucat yang hanya berjumlah 97 biji atau 44,9% dari total biji yang ada dalam satu tongkol. Kemudian data juga menunjukkan bahwa dari 216 biji yang ada terdapat 100% biji yang tidak berkerut.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa, pengaruh gamet jantan lebih dominan yaitu memberi kenampakan kuning kuat dan tidak berkerut seperti jagung Manado. Meski demikian, masih terdapat karakter biji yang berwarna kuning pucat dan berkerut, yang mungkin disebabkan jagung telah terkontaminasi sebelum dilakukan penyerbukan.
Dari data ditunjukkan bahwa terdapat 329 biji kuning pucat atau 83,3% dan terdapat 66 kuantum kuning kuat (16,3%) yang cenderung resesif terhadap karakter genotipe kuning pucat. Hal ini sesuai dengan teori bahwa, gamet jantan (♂) pada tanaman jagung Manis mempengaruhi endospermae jagung Manado betina (♀). Sehingga, pada persilangan Resiprok menghasilkan jagung yang kuning pucat dan berkerut.
Untuk kontrol Xenia dihasilkan jagung yang bijinya berkarakter kuning kuat dan tidak berkerut. Kemudian untuk kontrol Resiprok dihasilkan jagung dengan karakter biji kuning pucat dan tidak berkerut. Untuk kontrol Resiprok, seharusnya dihasilkan biji yang dominan berkerut. Hal ini terjadi karena adanya kontaminasi dari benang sari tanaman jagung manado yang lain.

VI. Kesimpulan

1. Peristiwa Xenia dapat dibuktikan pada tanaman jagung.
2. Persilangan antara jagung manis (♀) dengan jagung manado kuning (♂) atau xenia menghasilkan karakter biji berwarna kuning kuat dan tidak berkerut.
3. Persilangan antara jagung manis (♂) dengan jagung manado kuning (♀) atau resiprok menghasilkan karakter biji berwarna kuning pucat dan berkerut.
4. Kontrol xenia menghasilkan karakter biji berwarna kuning kuat dan tidak berkerut sedangkan, kontrol resiprok menghasilkan karakter biji berwarna kuning pucat dan tidak berkerut.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1988. Koordinasi Program Penelitian Nasional : Jagung. Puslitbang Tanaman Pangan. Bogor.

Burhanudin, O., Suherman, Faesal, M. Dahlan, F. Kasim. 2002. Pengembangan Jagung Unggul Nasional Varietas Bersari Bebas. Risalah Penelitian Jagung dan Serealia Lain. 7 : 8-14.

Gardner, Eldon J. . 1968. Principles of Genetics. 3rd Edition. John Wiley & Sons, Inc. New York.

--------------------------. 1974. Principles of Genetics. 5th Edition. John Wiley & Sons, Inc. New York.

Sarono, M. S., Sa’ud, C. L. Tsai. 2001. Corn Production in Asia. Food and Fertilizer Technology Centre. Taiwan.

Seka, D and H. Z. Cross.1995. Xenia and maternal effects on maize kernel development. Crop Science. 1 (35) : 80-85.

-----------------------------------.1995. Xenia and maternal effects on maize agronomic traits at three plant densities. Crop Science. 1 (35) : 86-94.

Sutoro, Y., Soelaeman, Iskandar. 1988. Jagung. Puslitbang Tanaman Pangan. Bogor.

PEMELIHARAAN TANAMAN BUAH DALAM POT

PEMELIHARAAN TANAMAN BUAH DALAM POT

I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Budidaya tanaman buah dalam pot (tabulampot) merupakan salah satu solusi bagi para pecinta tanaman di perkotaan yang notabene memiliki lahan yang sempit untuk dapat digunakan sebagai lahan pertanaman. Dari segi perawatan, tabulampot tidak tergolong sulit. Sama halnya dengan tanaman tanpa media pot, harus dipupuk dan diberi air. Namun, ada beberapa trik agar media pot tidak menghalang pertumbuhan si tanaman.
Menumbuhkan tanaman buah dalam pot yang dapat tumbuh secara baik batang dan daun sangat mudah dan hampir semua orang bisa melakukannya. Tetapi, permasalahan yang timbul adalah bila tabulampot harus tumbuh batang, daun, serta keluar bunga dan buah maka tidak semua orang bisa. Hanya dengan pemeliharaan tanaman dan perawatan tanaman yang tekun yang bisa membuat tanaman berbunga dan berbuah. Perawatan dan pemeliharaan tabulampot tidak dapat dapat dilakukan sembarangan, ada trik-trik khusus yang dapat dilakukan agar tabulampot mampu berbunga dan banyak berbuah.

B. Tujuan
1. Mengenal dan mempelajari cara –cara memelihara tanaman buah dalam pot .
2. Mahasiswa dapat menumbuhkan dan memelihara tanaman buah dalam pot yang telah dewasa sehingga tanaman dapat berbunga dan berbuah.


II. METODOLOGI

Praktikum Budidaya Tanaman Buah yang Menyemai Benih Buah dilaksanakan pada hari Selasa , tanggal 20 April 2010, di rumah kawat Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan bahan yang digunakan antara lain pupuk: urea, TPS, dan KCL atau pupuk majemuk NPK (15:15:15), pupuk kandang, furadan, dan byfolan. Peralatan yang digunakan adalah gembor, cetok, cangkul, alat-alat bercocok tanam lainnya.
Cara kerjanya adalah pupuk diberikan pada tanaman buah dalam pot yang berumur 2 minggu setelah tanam. Pupuk yang diberikan berupa campuran urea, TSP, dan KCL (2:1:1) 20 gram tiap pot. Cara pemberian pemberian pupuk adalah : pupuk diberikan di bawah tajuk mengelingngi tanaman dalam pot pada kedalaman 10-15 cm. Kemudian pada media disiram air bersih.memupuk diulangi lagi setelah satu bulan. Selanjutnya diamati jumlah cabang setiap 2 minggu sekali, jumlah daun setiap 2 minggu sekali dan pengamatan visual.
Untuk membongkar pot. Media dalam pot lama disiram dengan air secukupnya. Tanaman buah dan akar-akarnya dikeluarkan dari pot deangan cara mencabut .
Untuk mengganti pot. Pot disiapkan ( drum) dengan ukauran yang lebih besar dari pot lama. Dasar pot diisi dengan kerikil atau pecahan batu bata ± 5 cm. Kemudian pot diisi dengan media yang berupa tanah dengan pupuk kandang ( 1:1) yang telah diberi furadan 10 gram atau disiram dengan benlate ( 2 gram / l air). Campuran media tanam tersebut diisikan ke dalam pot sampai 1/3 bagian pot . Tanaman sebelum dimasukkan ke dalam pot baru sebaiknya disiramr, kemudian akarnya dimasukkan campuran media tanah dimasukkan ke dalam pot sampai pot tampak penuh (± 1cm dari bibir pot) kemudian media dipadatkan pelan-pelan pada bagian pangkal batang tanaman. Tabulampot disiram dengan air bersih hingga medianya cukup basah dan lembab. Setelah tanaman berumur dua minggu, setelah dipindah ke dalam pot, baru diberikan pupuk susulan berupa campuran pupuk urea, TSP, dan Kcl ( 2:1:1) sebanyak 20 gram setiap pot. Pengamatan visual dilakukan dengan cara membandingkan antara sebelum dengan sesudah diganti potnya. Pengamatan yang dilakukan adalah terhadap jumlah bunga dan buah ( jika telah terbentuk )
Penyiraman dilakukan setiap hari dengan menggunakan gembor supaya air jatuhnya bisa lembut. Air siraman dijatuhkan pada tanamanya, bukan pada media tanaman supaya media tidak memadat . meskipun demikian, akibat penyiraman media tanaman dapat menjadi padat . oleh karena itu edia tanaman perlu digemburkan seperlunya setiap sebulan sekali.
Pengendalian hama penyakit, pencegahan hama penyakit dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan tanaman dan lingkungan serta penggunaan bibit unggul.



III. PEMBAHASAN

Tabulampot merupakan salah satu alternatif budidaya tanaman di lahan sempit. Tidak hanya tanaman hias dan tanaman bonsai saja yang dapat dibudidayakan di dalam pot, namun tanaman buah juga dapat dibudidayakan dalam pot. Dari segi perawatan, tabulampot tidak tergolong sulit. Sama halnya dengan tanaman tanpa pot, harus dipupuk dan diberi air. Namun, ada beberapa trik agar media pot tidak menghalang pertumbuhan tanaman (Anonim, 2007).
Dengan perawatan yang baik , tanaman buah dalam pot (tabulampot) akan lebih cepat berbunga dan mengeluarkan buah. Selain itu, perawatan juga mencegah tabulampot kekurangan air., unsur hara, atau tumbuh liar hingga merimbun tidak beraturan dengan perakaran yang berantakan. Terpenting, dengan perawatan yang baik, kemungkinan tabulampot terserang hama dan penyakit juga semakin kecil (Kimball, 1992).

A. Penyiraman
Pada praktikum ini dilakukan penyiraman pada tabulampot tiap dua hari sekali pada pagi hari sejak dilakukannya pemindahan bibit ke dalam tabulampot. Penyiraman dilakukan juga secara insidental dan kondisional, bila telah terjadi hujan atau bila kondisi kelengasan media masih cukup maka penyiraman tidak dilakukan agar tidak terjadi penggenangan pada media. Penyiraman yang dilakukan diharapkan dapat menjaga kondisi media pertanaman agar selalu berada pada kondisi kapasitas lapang. Kondisi kelengasan media yang berada pada kapasitas lapang merupakan kondisi optimal bagi akar tanaman untuk dapat menyerap unsur hara dari media.
Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor atau ember dengan air yang dicipratkan supaya air jatuhnya bisa lembut. Air siraman dijatuhkan pada tanamannya bukan pada media tanamnya supaya media tidak memadat. Meskipun demikian akibat penyiraman media tanam dapat menjadi padat, oleh karena itu sebulan sekali media tanamnya perlu digemburkan seperlunya.
Penyiraman bertujuan mengganti air yang menguap lewat permukaan daun. Jika tidak disiram, tabulampot akan layu kerena mengalami dehidrasi. Pada musim hujan, tabulampot cukup disiram 1 kali. Pada musim kemarau, tabulampot harus disiram minimum dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Penyiraman yang tepat dan teratur mempercepat tabulampot berbuah. Pada awal penanaman , penyiraman dilakukan rutin setiap hari untuk menjaga kelembaban. Penyiraman pada tabulampot dilakukan secara total, tidak hanya pada media tanamannya, tetapi juga seliruh bagian termasuk cabang dan daun-daunnya disiram sampai basah. Tujuannya agar tanaman tampak lebih segar dan menghilangkan debu di permukaan daun. Debu di permukaan daun dapat menutup pori-pori sehingga daun sulit menyerap oksigen dan sinar matahari akibatnya proses fotosintesis tidak dapat berlangsung sempurna.
Air siraman tidak boleh terlalu banyak hingga tumpah melalui bibir pot. Penyiraman dianggap cukup jika air sudah menggenangi media tanaman dan lama meresapnya. Pada masa pertumbuhan , air uang dsiram sebanyak 10-15 liter/pot. Saat tabulampot akan berbunga volume penyiraman dilakukan menjadi 5 liter/pot. Setelah bunga muncul, penyiraman dilakukan dengan normal kembali. Karena penyiraman membuat media tanaman memadat, penggemburan perlu dilakukan satu bulan sekali agar tetap porous. Satu minggu setelah tabulampot ditanam siram dengan larutan atonik untung merangsang tumbuhnya akar-akar baru.

B. Pemupukan


Pada praktikum ini dilakukan pembersihan pot dari gulma dan kotoran, serta dilakukan perlakuan pemusnahan hama secara manual. Kemudian juga dilakukan pemupukan menggunakan pupuk SP36 dan KCl. Pemberian pupuk dilakukan pada media dengan menggali media di sekitar perakaran sedalam ± 5 cm kemudian lubang tersebut timbun kembali. Hal ini bertujuan agar pupuk dapat segera larut dalam media tabulampot, dan mencegah terjadinya volatilisasi/penguapan pupuk.
Pemberian pupuk pada tanaman harus disesuaikan tujuan dan keperluan yang diinginkan, untuk pertumbuhan vegetatif diperlukan banyak N, sedangkan untuk pertumbuhan generatif diperlukan unsur P dan K yang tinggi. Pada praktikum ini tidak dilakukan pemupukan menggunakan urea (N) agar tidak terjadi kelebihan unsur N yang mengakibatkan tanaman mudah terserang penyakit dan menjadi lemah karena kondisi media yang sejak awal sudah dilakukan pemupukan dengan pupuk organik yang mengandung banyak unsur N. Pemupukan yang dilakukan adalah pemupukan P dan K yang bersifat menguatkan perakaran, menguatkan daun, dan menyebabkan tanaman tahan terhadap serangan penyakit (Feby, 2008).
Kemampuan media tanaman menyediakan unsur hara sangat terbatas. Terkadang unsur hara dalam media tanaman habis terbawa air penyiraman. Oleh karena itu, pemupukan dapat dilakukan untuk mengganti unsur hara yang mungkin tercuci pada saat penyiraman.
Menurut Marsono (2004), pemupukan tabulampot dapat dilakukan melalui akar maupun daun.
a. Pupuk akar
Unsur hara tanaman adalah unsur-unsur yang diambil tanaman untuk pertumbuhannya yang sehat dan dipergunakan untuk menghasilkan makanan dan jaringan-jaringan tanaman. Unsur yang dibutuhkan setiap tanaman memerlukan 16 unsur penting/ esensial untuk pertumbuhannya yang normal dan sehat. 3 unsur diambil dari udara dan air, sedangkan 13 unsur lainnya diperoleh dari tanah. Unsur esensial tersebut adalah C, H, O, N, P, K, Ca, Cl, Fe, Mn, Cu, Zn, Bo, dan Mo. Selain itu, ada juga unsur nonesensial yaitu Na, Si, Co, dan Al. 13 unsur hara dari tanah berdasarkan jumlah banyak yang diambil dan peranannya dalam tanaman.dibagi menjadi:
1. unsur hara makro/ mayor/primer yaitu: N, P, K
2. unsur hara sekunder yaitu: Ca, Mg, S
3. unsur hara mikro/ minor yaitu: Cl, Fe, Mn, Cu, Zn, Bo, Mo
b. Pupuk daun
Selain pupuk akar tabulampot juga diberi pupuk daun sebagai pelengkap. metode yang dilakukan dengan bantuan alat penyemprot, yang kemudian diaplikasikan langsung pada bagian tanaman terutama daun, dengan cara disemprot. Cara ini dilakukan untuk melengkapi pemberian pupuk melalui tanah untuk mengatasi dengan segera gejala kekahatan yang muncul, terutama hara mikro dan hara immobil dalam tubuh tanaman. Hara masuk ke dalam tubuh tanaman melalui mulut stomata secara difusi atau osmosis. Ada beberapa kesukaran dalam penggunaan pupuk dengan secara penyemprotan melalui daun, yakni : pinggir daun terbakar karena larutan terlalu pekat, hara yang dapat diberikan pada setiap pemberian rendah sehingga perlu diberikan beberapa kali untuk dosis pupuk sedang dan tinggi, biaya persatuan tinggi meskipun digabungkan dengan keperluan lainnya, misalnya bersama–sama dengan pestisida. Keuntungan dari metode ini adalah pupuk langsung mengenai sasaran dan lebih mudah pengaplikasiannya. Sedangkan kerugian dari penggunaan metode ini adalah pupuk akan lebih mudah hilang yang dapat diakibatkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi. Untuk itu hal penting yang perlu diperhatikan adalah : larutan harus encer (<0,5>. Diakes tanggal 25 April 2010.

Marsono. 2004. Tabulampot Solusi Berkebun di Lahan Sempit. Republika edisi Rabu 06 Oktober, Jakarta.

Mulyanto, B., Eka L., Dyah T. 1997. Perbandingan efisiensi pemupukan sawah baru dan lama di kecamatan Cugening, Cianjur. Agrista. 2: 162-168.

Rosmarkam. 2009. Tabulampot Solusi di Lahan Terbatas. . Diakses 25 April 2010.

 
KUMPULAN LAPORAN PERTANIAN © 2011 | Powerred by budibisa2sMartLiVe